Feeds:
Posts
Comments

Pernah ketemu dengan orang yang sama alias identik di dunia ini? Sejujurnya saya belum pernah…
Ada yang mirip plek mukanya, tapi yang satu rambutnya ikal yang satu lurus… pernah ketemu yang persis bentuk rambutnya… tapi kulitnya yang satu kuning yang satu coklat… pernah ketemu yang rambutnya sama, kulitnya sama… delalah kok bibirnya yang satu kayak Angelina Jollie yang satu lagi kayak Cameron Diaz… sama-sama cantik… tapi tetep beda versinya…

Aneh? enggak lah… orang bersaudara kandung aja, bisa beda beda kok… saya adik beradik, contohnya… saya termasuk yang beda sendiri kalo ditinjau dari bentuk hidung… adik adik saya (3 orang) pada mancung, lha saya…? alhamdulillah…. mancung juga, tapi ke dalem… hihi…
Lalu adik saya yang nomer dua…. warna kulitnya beda sendiri… putih mulus bersinar terang (doi pewaris tunggal putihnya kulit ayahanda) sementara warna kulit saya dan dua adik lainnya iya putih juga siiih… tapi putihnya tuaa… tuaaa… tuaaaa bangettt…. hihihi…
Nah lho… padahal kami saudara kandung seibu seayah lhooo… tapi ya memang begitulah adanya… nggak ada yang sama…

Jangankan saudara kandung, ternyata orang yang dilahirkan kembar identikpun, tetap saja memiliki perbedaan. SIDIK JARI mereka, ternyata berbeda!
Jadi, berbeda adalah hal yang sangat lumrah… lumrah sekali, bukan…?

Kita memang diciptakan TUHAN dengan berBEDA…

Itu baru dari segi fisik, yang kasat mata, lho…

Bagaimana dengan yang tidak kasat mata? isi hati, cara berpikir…
Pasti beragam juga…

Gak usah jauh-jauh… coba tengok sekeliling kita sendiri… saudara kandung kita… suami / istri kita, atau bahkan ibu kandung yang melahirkan kita ke dunia…
Tidak selamanya kita selalu seiya sekata, bukan…?
Pasti ada kalanya cara pandang kita berbeda, cara menyikapi sesuatu juga bisa berbeda.
Lalu kalau beda kenapa? Ya nggak kenapa-kenapa, kan?
Berbeda bukan berarti nggak bisa bersama, kan… buktinya kita tetap bisa menyayangi adik/kakak kita, orang tua kita, suami/istri kita.
Meski berbeda, sepanjang perbedaan itu tidak berakibat menyakiti satu sama lain, tetap kita bisa hidup damai dan bahagia… Setuju, nggak?

Saya pribadi punya pengalaman yang sangat indah dalam menghadapi perbedaan…

Saya punya sahabat sedari SMA hingga kini (insya Allah) yang berbeda agama. Tapi percayalah, selama 20 tahun berteman dengannya… alhamdulillah, tidak pernah sekalipun kami bermasalah karena perbedaan tersebut…
Bahkan tidak pernah terbersit sekalipun untuk membahas… bahwa kita punya perbedaan…
Justru kami seringnya cuhat-curhatan, sampe nangis bareng… ketika patah hati (uhuy… kisah jaman jomblo tea..) jangan ditanya soal ketawa ketiwinya, yaaaaaa… itu mah nggak keitung banyaknya….
Bersamanya saya bisa tertawa sambil terkikikik kikik… tapi juga bisa berpelukan menangisi nasib ditinggal kecengan… (hihi jujur niiih).
Saya menyayanginya… sepenuh hati sebagai salah seorang sahabat terbaik saya…

Setelah menikah…
Saya merasa beruntung… sekali. Saya bertetangga dengan orang-orang yang sangat baik…
Di awal pernikahan saya 11 tahun-an yang lalu, kami bertetangga dengan keluarga yang berasal dari pulau Dewata… Subhanallah… baiknya… mereka….
Masih teringat keadaan saya saat itu, merantau ke lain pulau, nggak ada sanak saudara, di kota yang benar2 asing sama sekali, lalu hamil muda pula dengan kondisi Hyperemesis Gravidarum, sementara suami saya banyak bepergian ke lokasi kerja di tengah laut. Keberadaan tetangga sebaik mereka benar-benar sunguh berarti buat saya… merekalah yang menggantikan peran keluarga saya yang jauh di sebrang sana… menemani saya ketika sakit… membelikan saya makanan ngidam… menghibur saya yang saat itu benar2 sendirian…
Dengan keadaan itu, adakah gunanya kita berpikir… wohoooy… kita beda!!!??
(Bu Ketut… I miss you)

Tahun kedua pernikahan, kami pindah rumah… Alhamdulillah… tetangga kali ini malah lebih jauh lagi perbedaannya… warna rambutnya aja sudah lain… kita hitam dia blondie… ya iya… kan londo Aussie… sementara tetangga kiri, WNI keturunan. Gimana kita menyikapi perbedaan?
Ya nggak gimana-gimana… lha wong kita nggak pernah berpikir kalo kita beda… kita nggak pernah berkoar-koar menyuarakan
“Wooohooooy… kita BEDAAA!!! Gua item elu putih!”
Hah? Buat apa coba??
Yang ada kami malah sering kirim-kiriman masakan… dan si bule malah beberapa kali ngundang kami makan di rumahnya… hmmm yummmyyy…
Sama koh Jefri tetangga sebelah kiri, kita malah suka titip-titip-an anak… hehehe kebetulan pas sama-sama punya bayi yang hampir seumuran…
So… lihaattt… ada manfaatnya mengagung-agungkan perBEDAan???

Tahun ketiga, saya pindah rumah lagi…
Di tempat ke 3 ini pun saya punya tetangga yang subhanallah… udah saya anggap tante sendiri…
(hiks bu John… pak John… kangeeeennn) gak bisa dituliskan bagaimana baiknya…
Kami yang perantau, jauh dari orang tua serasa menemukan tante dan oom di tempat ini…
Kami berbeda? Iya… beliau berdua Christian… rajin sekali buat kebaktian di rumahnya… dan kami…? Alhamdulillah selalu kebagian kue-kuenya ;)… enak… yummyy…
Kalau lebaran, beliau yang heboh memasakkan kami ikan bakar Rica nan suedaaap… Jadi menu openhouse lebaran di rumah kami selalu ada tambahan ikan bakar Rica… made in ibu John Wakkary *duuuh ngetik ini sambil ngilerrr*
Sampai sekarangpun tiap kami pulang menengok rumah ke Balikpapan, bu John gak pernah lupa membuatkan kami segala macam penganan yg sedap2… bahkan berkeras mengantarkan kami pulang sampai bandara… So sweeet… Saudara kandung aja belum tentu mau begitu…ūüėČ
Sungguh saya mencintai mereka….
Kami berbeda.. tapi pantaskah saya mengungkit2 perbedaan itu? adakah gunanya?

Lalu kami merantau lagi… ke negeri lain..
Sekeliling kami? lebih beragam lagi… orang Belanda, Norwegia, British, India, Thailand, Egypt, Nigeria, Gabon, Oman, Philiphine, Amerika, Italia, China, Malaysia.
Beda nggak? Ya iya laaah… bukan sekedar agama… ya fisiknya aja extrim banget bedanya…. Ada yang tuinggi gedeee… item… ada yang tinggi langsing… buleee… ada yang bulet pendek, mungil imut dan lucu (baca: saya atuh eta mah).
Ada yang tanktop-an tiap hari pagi sore siang malem biarpun lagi hujan angin… ada yang pake baju saree, ada yang pakai jubah item-item…, ada juga yang pake baju kebangsaan Nigeria yang ginjreng itu loooh…

Bahasanya…??? masha Allah… biar semua bisa berbahasa Inggris… teteuuup… komunikasi sering korslet… lha wong yang satu logat Arab, satu dialek Philipine satu aksen Belanda… satu lagi gaya Shah Rukh Khan.. satu lagi gaya Nigeria..dan gw dong konsisten Sund-Lish alias Sunda Inggris tea…
Sering saling ngak ngerti? hihi SERIIIINGGG banget…
Pernah berantem gara gara itu?
Alhamdulillah, insya Allah, Allah saksinya… TIDAK PERNAH sama sekali…
Benar-benar berbeda… benar-benar penuh warna..
Tapi damai… rukun… tetap berteman… bersinergi… bekerja sama…
Mereka pun sudah bagaikan keluarga buat saya… Shoulder to cry on ketika ada yang dirudung masalah… sudah menjadi keluarga terdekat ketika yang satu sakit dan membutuhkan bantuan… sudah jadi teman berbagi… bercerita… tertawa, bahkan menangis bersama…

Kita memang berbeda, SANGAT BERBEDA, malah… tapi kita TETAP BERTEMAN, tetap saling menghormati, menghargai, menyayangi…

Kenapa? ya karena semuanya kita nggak pernah membahas apa yang menjadi perBEDAan diantara kita…
Gak ada yang mengkritik… “Hei… kenapa tubuhmu pendek gendut, Ivy??”
Gak ada yang bilang “Kenapa Tuhanmu terlalu banyak permintaan ke mahluknya…??”
Gak pernah terdengar “Kenapa kamu menyembah lebih dari 1 Tuhan?”
Gak juga ada yang komplain”Kenapa kamu vegetarian?”
Atau “Kamu kok bodoh gak mau minum wine”
“Kenapa kamu tiap hari bakar dupa?”
atau “Kenapa kamu gak percaya Tuhan??”

Gak pernah.
Karena kita semua sudah tahu sama tau…
Kita memang berbeda…
dan perbedaan itu nggak akan pernah mungkin kita seragamkan…
Dan lagi memang gak ada gunanya menjadi seragam…
Dari sononya, Tuhan sudah menciptakan mahluknya berbangsa-bangsa, bukan?

Alhamdulillah… mereka orang-orang yang matang secara pemikiran..
Meskipun perbedaan terhampar berwarna-warni di depan mata, tak sekalipun, ada yang berkoar-koar mengumumkan “Inilah saya… saya itu begini… bla bla bla… nahhh… kamu beda sama saya!!!”
(Hahaha kalo sampai ada pasti dicap orang GILA deh tuh orang…)

Jadi Moral of this note…

Jangan takut menghadapi perbedaan…
Dan gak perlu mengagung-agungkan (baca; mengkoar-koarkan) perBEDAan…

Jalani saja hidup ini… hadapi masalahnya… cintai sekelilingmu… syukuri betapa banyak orang yang care sama kita…
Jangan lah… cuma karena ingin dibilang ‘pemikir’ , cuma karena ingin terlihat ‘cerdas’… kita sampai mati-matian berusaha eksis…
Berkoar-koar di forum umum. Mengumumkan:

“INILAH GW! Mahluk unik nan berbeda dengan kaumnya…!
Gw lain sama elo! Jangan salahkan gw! Karena gw emang lain!”

Waaaakkkksss????

Percayalah… itu hanya membuat diri kita terlihat bodoh dan menyebalkan di mata orang…
ūüėõ

KITA MEMANG BEDA…
LALU KENAPA? ya… nggak kenapa-kenapa, kan…….ūüėÄ

Berkicau Lagi….

Halooo dunia…

Ya ampuuun… sudah berapa lama ya… nggak mampir ke sini… jujur aja, sebenarnya kangen buat cuap-cuap via jari, tapi entah kenapa, rasanya susah aja cari waktu. Padahal apa coba yang saya kerjakan? kayaknya nggak ada deh yang cukup layak dikatakan sebagai kegiatan produktif..ūüôā *pipi memerah, malu*

Beberapa bulan terakhir ini memang sedang sibuk berkebun, terkadang berperang, srta mengurus binatang peliharaan saya yang lucu, dan terakhir saya sedang asyik memulai membangun cafe… hehehe produktif? ih tentu tidak, orang semuanya virtual kooook… alias hanya game di facebook… wkwkwwkwk…

Sementara di dunia nyata sesungguhnya, saya lumayan sibuk sama kegiatan sarapan bareng, belajar karate (yang teteup gak bisa-bisa), mengumpulkan niat buat jogging (wkwkwkw,dan sampai sekarang baru sediiiikiiit sekali niat yg terkumpul)… duilah… saya kok kesannya repot bener sama hal-hal cemen yeee… hehehehe…

Udah ah… gak usah dibahas…

Setidaknya pagi ini saya mulai nulis lagi, hahaha… tadi sempet lupa, lho passwordnya wp.. wkwkwwk… gitu deh… saking lamanya nggak update… ya sudah lah… nanti nanti saya mampir lagi…. Mudah-mudahan nanti ada ide buat cuap-cuap lagi, ya… hehe…

Gak sengaja sedang bertanya pada oom Google, tiba-tiba berjumpa tulisan saya sendiri, yang saya tulis 10 tahun-an yang lalu waktu saya masih bekerja pada salah satu perusahan minyak asing ¬†di Propinsi Riau. Saat itu saya belum mengenal dunia perblog-an, semula tulisan ini saya kirim lewat email kantor saya saat itu ke Mailing List Geodesi ITB (almamater saya), nggak taunya sang email berkelana keliling dunia, sampai akhirnya ketemu lagi hari ini di sini….¬†

Saya ingat, waktu itu, ketika email ini beredar, saya mendapat banyak ‘kenalan’ baru dari berbagai belahan dunia, yang rata-rata menanggapi kisah nyata saya ini dengan sangat positif.¬†

Takjub juga rasanya masih bisa membaca tulisan sendiri setelah beredar di dunia maya bertahun lalu, satu yang jadi pemikiran saya saat ini, setelah beberapa kali pemilu, berbilang jumlah presiden yang berganti, bermacam nama partai dan tokoh yang timbul tenggelam, bagaimana ya keadaan di tempat itu saat ini? apakah sudah berubah menjadi lebih baik atau justru semakin menyedihkan? ah… wallauhu’alam, karena jarak dan waktu yang telah mencerabut saya dari sana…

Tapi dengan setulus hati, doa akan saya panjatkan untuk Ridho dan kawan-kawan sedesanya, semoga perubahan ke arah kebih baik seperti cita-cita kalian yang sederhana itu akan jadi nyata…

 

PS : Tulisan ini saya copy paste tanpa diedit sedikitpun… (termasuk segala kesalahan ejaan dan penggunaan katanya, kecuali signature email di bagian paling bawah, saya samarkan, karena sudah tidak relevan lagi)

——————————***——————————

At 11:40 99/07/11 -0700, Viviani wrote:


Saya hanya ingin menceritakan pengalaman saya yang cukup menarik…


Sepanjang perjalanan saya di lapangan kemarin… ke beberapa daerah remote area Caltex, untuk mengawasi pengukuran posisi Gathering Station dengan GPS yang dilakukan oleh¬† para kru GPS dari Caltex, dan¬† 2 mahasiswa GD yang sedang KP.¬†

Tempat yang kami datangi adalah tempat-tempat terjauh dari daerah operasi, atau bisa dibilang ujung-ujungnya daerah konsesi Caltex… Diantara tempat itu ada oil field yang namanya ‘Antara’, letaknya kurang lebih 100 km dari Duri Camp¬†tempat mandah kami, dan sekitar 220 km di barat laut Pekanbaru.¬†

Untuk sampai ke sana kami harus melewati jalanan off road yang berdebu buanyak banget dikala panas dan super buecek di kala hujan. 

Tempat yang sepi, tidak terlalu banyak kegiatan operasi, karena sumur minyak di sini relatif sedikit, dan produksinya tidak terlalu banyak…¬†

Kami berhenti tepat di dekat Gathering Station Antara, di sekitarnya terdapat beberapa rumah penduduk¬† yang mungkin bisa dikategorikan sebagai rumah amat sangat sederhana sekali banget… dan di dekat situ ada juga sebuah Lapo Tuak, yang ditengah hari bolong itu menyetel lagu dangdut yang kalo nggak salah judulnya “Melati”.¬†


Keras-keras… sampai membahana ke seluruh pelosok field sepi yang panas dan gersang… Saat itu ketiga kru GPS bersama kedua mahasiswa KP tsb sedang mengeset alat, tiba-tiba kami¬†didatangi beberapa orang anak kecil usia yang saya perkirakan umurnya antara 3-12 tahun. Mereka penduduk setempat…


Mereka terlihat begitu antusias melihat pekerjaan kami dan¬†bertanya-tanya ini itu…

Dari pada mengganggu, saya ajak mereka ke mobil, dan berbincang-bincang… Hati saya sempat tersentuh melihat pakaian mereka… benar-benar memprihatinkan… compang-camping, mungkin istilahnya… (maaf, saya nggak bisa cari kata-kata lain yang lebih baik¬†untuk mendeskripsikannya). dan benar-benar kumuh…

Tapi yang nggak saya sangka… ternyata mereka cukup cerdas… saya ajak bicara, mereka menjawab dengan sopan dan terlihat mereka begitu antusias bertanya mengenai berbagai hal, mulai dari apa yang kru GPS tsb lakukan, lalu apa nama alat-alatnya, tentang Caltex, tentang sekolah, dan yang lucunya lagi, mereka ternyata sudah tau bedanya mobil bergardan tunggal dengan bergardan ganda, maklum… mereka lebih sering bergaul dengan para sopir bis atau truk di jalur Pekanbaru Medan.


Ketika obrolan kami tengah menyinggung masalah sekolah, Rido, nama seorang anak yang terlihat paling berani dan cerdas dari sekitarnya memulai bicara…¬†


“Bu, kami semua sekolah… itu… di sana… dekat…” ¬†

(jangan dikira istilah dekat kata mereka itu sama seperti arti istilah dekat di Bandung… yang disebut dekat oleh mereka ternyata sekitar 4 km, dan biasa mereka tempuh dengan jalan kaki, ternyata…! sementara matahari di sana huwalaaah…. puanaaaaasssss….. buangeeeet….)¬†


“Hanya si Rahman ini yang tidak, juga si ucok itu… maklum bu… buat makan saja mereka sudah susah…”¬†


Saya berpaling melihat kedua anak yang ditunjukkan oleh Rido (padahal si Rido ini, bajunya udah koyak-koyak, tapi dia bisa bilang ada temannya yang masih lebih susah dari dia…)


Kedua anak yang ditunjuk tadi tampak malu… lalu yang satu berkata¬†


“Nggak bu… saya masih bisa makan kok… biar mamak saya sudah tak ada, dan bapak saya tak pernah pulang, masih ada adik mamak saya yang kasih saya makan…. tapi memang saya tak punya uang untuk bayar sekolah….” katanya dengat logat sumatera utara yang cukup kental, maklum pendudukdaerah ini umumnya berasal dari sana…

Aduh…. seperti ada yang mengiris hati saya mendengar penuturan lugunya…¬†


Entah angin dari mana, tiba-tiba saya bicara 

“lho… kan katanya sekarang daftar sekolah sudah gratis… kenapa kau tak daftar…?”

ya…. kan kata iklan si Doel memang begitu…


“Ah…. bu… di sini tetap harus bayar…” mereka semua angkat bicara, berebut meminta didengarkan…


“iya, bu… kami semua tetap harus bayar… padahal mamak kami di sini rata-rata tak punya uang…”¬†

saya tertegun…. malu… dasar gue udah jadi korban iklan!!!¬†


“padahal kan bu…. buat apa ya… sekolah bayar… kan gedungnya sudah ada…”¬†

yang satu lagi memberi pendapat…


“iya, bu… kenapa ya bu..?”


“iya, bu… padahal kan pemerintah banyak uangnya…”


“saya pernah lihat di TV, rumah-rumah orang di Jakarta itu

cantik-cantik, bu… seperti rumah ibu di Duri, kan… dingin

kan…?(maksudnya pake AC) itu berarti uangnya banyak kan…? kenapa kami masih harus bayar sekolah, padahal kami di sini untuk makan saja susah…”


Upppsss…. saya bingung mau jawab apa…¬† takut salah bicara… apalagi ternyata anak-anak ini cukup kritis….¬†

Sungguh ada perasaan haru bercampur bangga di hati saya, saya nggak sangka, biar di daerah terpencil ini, pikiran mereka cukup kritis, sayang sekali bibit seperti ini kalau dibiarkan layu begitu saja tanpa sempat dibina…


Saya tengah berpikir untuk mencari kata-kata yang tepat…. tiba-tiba Rido kembali bicara…¬†

“Yah… tapi kami semua tau, kok bu… selama pemerintah kita masih yang sekarang… kami akan tetap begini… tapi lihat saja nanti kalau Megawati menang! semua berubah!”


Hei… ! saya tersentak apalagi ketika melihat kobaran semangat di matanya… di mata seorang anak umur 9 tahun… yang masih duduk di kelas 1 SD!!! Mata itu berkilat penuh semangat dan memancarkan harapan yang dalam…


“Apa…?” tanya saya ingin mendengar sekali lagi…. seakan nggak percaya dengan apa yang saya dengar tadi…


“iya, bu… kalau megawati menang, kami semua dijanjikan akan boleh bersekolah gratis…” jawabnya dengan wajah yakin..

 

“kau Cok… Man… kalian nanti bisa sekolah lagi…” sambungnya… tenggorokan saya seperti tercekat…¬†


Jadi propaganda seperti ini sudah sampai juga ke¬†telinga bocah-bocah polos seperti mereka… padahal mereka kan belum ikut pemilu…


“betul kan, bu…?” Rido balik bertanya pada saya. Saya lihat ia menuntut jawaban yang mendukung keyakinannya…¬†


“iya, kan bu…?”¬†Ucok ikut bertanya…


“Ucok mau bu sekolah… asal tidak usah bayar… sebab ucok tak punya uang…” Ucok menatap saya… saya masih belum mampu bicara…


“Tapi… bu… apa megawati sudah menang…?” sambung Rido…¬†


“kalau mega tak menang…. tak jadi lah kau Cok… sekolah lagi…”


“tapi kalau kampung kami, mega sudah menang, bu…”


“memangnya kau ikut pemilu, cok…?” tanyaku…


“ya tidak lah bu… itukan buat orang yang sudah dewasa… kami semua cuma lihat saja… di sini hampir semua pilih mega, karena kalau mega menang, nasib kami semua akan lebih diperhatikan, bu….”


Saya mencoba tersenyum arif di depan mereka…¬†

“yah… kita do’akan saja, ya… semoga siapapun nanti yang menang…. nasib kalian tetap diperhatikan… supaya kalian bisa tetap sekolah…”


Sepanjang perjalanan pulang ke base camp kami di Duri, saya nggak bisa tenang… terngiang-ngiang terus kata-kata Rido dan kawan-kawannya…

Semakin diingat… semakin sedih rasanya… Andaikan memang benar janji-janji indah yang diberikan pada mereka itu dapat dipenuhi… saya benar-benar bersyukur… saya angkat topi !¬†


Tapi andaikan apa yang dijanjikan itu tak lebih dari sekedar janji palsu… sungguh saya sangat kecewa…! Alangkah teganya mereka-mereka berpropaganda yang muluk-muluk… pada rakyat yang menderita seperti Ucok dan kawan-kawannya… Hanya demi merebut kursi di DPR ! hanya demi kemenangan partai! Sungguh alangakah teganya….!


Saya yakin keluarga ucok dan kawan-kawan adalah cermin mayoritas rakyat kecil kita di pelosok negeri ini… dan jumlah mereka sangatlah banyak… mereka hidup kekurangan… dan tentunya mereka punya harapan besar untuk dapat hidup lebih baik… karena itu merekalah sasaran empuk para pengobral janji…¬†


Untuk mempengaruhi mereka memang tak perlu kita pandai berorasi… tak perlu pandai persuasi… tak perlu pandai

berargumen ataupun berdebat dalam forum calon presiden… Cukup kita katakan janji untuk memperbaiki hidup mereka… nasib mereka… ternyata mereka sudah cukup percaya… apalagi buat anak-anak seperti Rido… keinginan mereka tak muluk-muluk…. mereka hanya ingin dapat terus sekolah.¬†


Itu saja.


Ah…. saya nggak mau berburuk sangka…. meskipun dalam hati saya pesimis…


Sekali lagi saya hanya bisa berharap… semoga janji yang diberikan pada orang-orang sekampung si Rido… juga masyarakat lain di seluruh pelosok negeri ini… memang dapat dipertanggung jawabkan oleh para pengobralnya… bukan sekedar untuk menarik simpati dan mengumpulkan suara demi kemenangan partai.


Saya nggak ingin mereka dikecewakan, karena mereka telah cukup menderita…. semoga mereka tidak perlu lebih menderita lagi karena kecewa….


Yah… gitu aja… maaf kalo mailnya kepanjangan….


regards,


Viviani Suhar

Exploration Geophysical Operations

PT Cal*** Paci*** Indonesia

Rumbai-Pekanbaru 28271

Ph : 62-0761-5***** (O)

       62-0761-5*****  (H) 

e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Persahabatan…

Persahabatan, tentunya bukan kata yang asing bagi telinga kita. Meskipun mungkin tiap orang mempunyai definisi yang berbeda-beda mengenai arti kata ‘sahabat’ dan ‘persahabatan’. Bagi saya sendiri, Sahabat adalah seseorang yang secara emosi (bukan physically) lebih dekat dari pada sekedar teman. Teman sejati, adalah kata yang saya rasa bisa disamakan dengan sahabat.

 

Seorang yang dinamakan sahabat, menurut kamus saya adalah orang yang selalu menerima kita dalam keadaan apapun, baik sakit maupun sehat, saat kita miskin maupun kaya, ketika kita sedih maupun senang, sewaktu kita kecewa maupun bahagia.

Dengan sahabat, kita bisa berbagi kesedihan tanpa ada rasa khawatir untuk dilecehkan, dan kita bisa berbagi kebahagiaan tanpa khawatir akan munculnya rasa dengki.

Bersama sahabat, kita akan merasa batin menjadi damai, hati ceria, dan bahagia… karena kita tahu, bersamanya kita bisa tertawa bersama, dan bila salah satu diantara kita ‘terluka’ maka yang lain akan siap membalutnya…

 

Tidak jadi masalah, apa jenis kelaminnya, apa warna kulitnya, apa bahasanya, dan di mana tinggalnya, seorang sahabat, akan tetap bersemayam di hati kita, karena kita tahu, siapapun dan di manapun mereka, mereka tetaplah sahabat kita.

Yang namanya teman mungkin tak terhitung jumlahnya, tapi teman sejati atau sahabat, jumlahnya tidaklah banyak… bagi saya, teman yang cuma ada di kala saya tertawa tapi ngibrit di kala saya sakit, itu bukanlah sahabat saya… seorang teman yang cemburu ketika saya bahagia, tapi bertepuk tangan ketika saya kecewa, juga bukanlah seorang sahabat. Mereka hanya teman. Seseorang yang mungkin secara fisik dekat, tapi secara hati… tidak.

Satu lagi, seorang sahabat, haruslah mampu menjaga kepercayaan sahabatnya, bukannya malah membuka aib atau menyebarkan rahasia bahkan memfitnah sang sahabat dibelakangnya.

(Jangankan buat jadi sahabat, orang model terakhir ini malah langsung otomatis tidak layak masuk kategori ‘teman’ sekalipun bagi saya..)

 

Susah ya jadi seorang sahabat? ¬†ya, bisa jadi, karena persahabatan memang menggunakan hati, membutuhkan segudang keikhlasan, berton-ton cinta, serta beribu pengertian. Dan tidak semua orang saya rasa mampu memberikan cinta, pengertian dan keikhlasan pada orang lain…¬†Sebagai seorang sahabat, kita juga mesti mempunyai kelapangan hati dan bersedia menjadi ‘shoulder to cry on’, ketika sahabat kita sedang membutuhkan dukungan…

Hanya orang-orang tertentu, yang bisa melakukan itu… hanya kepada orang-orang tertentu juga, kita bisa melakukannya dan merekalah, sahabat kita…

 

Indah yaaa… persahabatan versi saya…

 

Iya, memang indah sekali… Karena itu, saya adalah orang yang paling tidak tahan hidup tanpa sahabat… di manapun kapanpun saya berada, saya selalu berusaha mencari teman yang sekiranya dapat dijadikan sahabat…

Sampai-sampai, setiap saya akan pindah tempat kerja ataupun tempat tinggal, salah satu do’a yang saya panjatkan adalah… “Ya Tuhan, berilah saya sahabat-sahabat yang baik di tempat yang baru..”

(Dengan sama sekali tidak mengecilkan arti sahabat-sahabat lama yang telah saya miliki sebelumnya…¬†Karena jarak yang memisahkan kita, tentunya sulit untuk intens berinteraksi, tapi mereka tetap bersemayam di¬†¬†dalam hati saya selamanya)

 

Alhamdulillah, di Miri, tempat saya merantau kali ini pun Tuhan berkenan mempertemukan saya dengan sahabat-sahabat baru. Uniknya, mereka berasal dari beberapa negara berbeda, agamapun berbeda-beda, begitu juga bahasanya. Tapi secara hati, kita semua saling mengerti… bersama mereka, hidup saya di Miri yang sempat garing, jadi berbunga… duuuh…. makasih yaaa… sahabat2ku tercintaaa…

Hari Kamis kemarin (tanggal 1 Januari 2009) Poom, salah seorang dari sahabat saya itu mengadakan Friendship Lunch. Tujuannya buat merayakan persahabatan kita, dan mengawali tahun baru ini dengan indahnya persahabatan…

Duuuuuh… senangnya…. ini nih foto saya dan sahabat-sahabat saya di Miri dalam acara Friendship Lunch kemarin…

dsc_0245Mey, Poom, Ivy, Vinitha, Veena

Tidak terasa, kali ini adalah Tahun Baru yang ke 3 yang kami lewati, sejak kami terdampar di kota mungil Miri. Tidak seperti tahun lalu, tahun baru kali ini kami tidak pergi kemana-mana. Berhubung si bapak ada kerjaan yang mesti diselesaikan (nasip kuli TKI nih), jadi gak bisa kita beranjak walau se-meter aja dari sini… hiks! *TKI teladan*

Ternyata bermalam tahunbaru di rumah nggak kalah asyik lhooo…. sama pergi jauh berlibur… (hmm jadi inget malam tahun baru tahun lalu kita ke Singapore…)¬†

Sejak pagi hari, tanggal 31-nya, bapak dan anak-anak sudah bangun  tenda di halaman samping.

Lalu kita makan siang bersama di sana… whuaaaaah… panaaaasss, boooo… jam 12 siang di bawah mentari Miri yang garang geto loh… akhirnya daku alias si ibu nyerah… selesai makan langsung ngibrit masuk rumah… ngadem… hehehe… sementara anak-anak dan si bapak teteup asyik-asyik aja main di tenda…

Malamnya, kita nyate kambing… horeeee…

dsc_01772

 

dsc_02031

Sebetulnya saya sempat cemas, inget bikin sate sapi yang keras 2 minggu lalu… tapi dengan bismillah… alhamdulillah… tengtereeeeng… sate kambingnya jadi juga… daaaan… empuk serta sedap, saudara-saudara… suwerrrr… Qika aja sampai habis 4 tusuk (padahal seumur hidup dia nggak pernah mau nyoba benda bernama sate), itupun protes minta lagi… hehe tapi sayang dah keburu habis disikat bapak n emaknya… *maafkan kami, nak..*

 

dsc_01881dsc_0208

 

dsc_0209

 

Mulanya acara mau kita lanjutkan dengan bobo di tenda… tapi ternyata… anak-anak pada milih masuk kamar masing-masing… hahaha… kemping bataaalll… ya sudaaah… emak jadi giraaang… secara saya juga nggak kepengen bobo di tenda… hihihi…

dsc_0153

 

Tengah malam… wah… ini yang nggak terduga…

Tetangga-tetangga blok sebelah kanan dan blok belakang ternyata bikin acara pesta kembang api… jadilah kami berdua (bapak n ibu, dong… masak bapak dan bibi) nonton sang fire work dari jendela kamar… whaaaaaaa… bagusnyaaaaaa….. darderdoernya sampai 2 jam lebiiih… dari 2 spot yang berbeda…

Jadi inget tahun lalu… kita di Singapore, perjuangan nonton kembang apinya bener-bener berat banget…. kita mesti jalan jauh ke esplanade… gak tau deh berapa kilo… yang ada begitu sampai tuh tempat udah penuh sama ribuan orang Indonesia (bussset… jauh-jauh n mahal-mahal ke Singapore, lha kok ketemunya temen sekampung jugaaaa…. mendingan ke ancol aja, tau gitu sih).

Dan yang lebih nyebelin lagi, berhubung tempatnya dah penuh sesak… kita nggak kebagian spot yang oke buat lihat sang kembang api… dan garingnya lagi, sang kembang api cuma muncul 7 menit saja! betul-betul 7 menit!!!! whaaaa… jalan kakinya aja hampir 1 jam, booo!¬†

Kapoook… deeeeh….

Makanya amazing banget, malam ini, ternyata nggak perlu pergi jauh, dari jendela kamarpun, kita bisa merasakan kesemarakan tahun baru…. gratis lagii… ah… alhamdulillah…

Oh yaaa… selamat tahun baru semuanya…

Semoga di tahun ini, segala sesuatunya menjadi lebih baik…

Ya kehidupan kita, tingkah laku dan amal kita, kesehatan kita, pemikiran kita… dan semuanya…. semoga menjadi lebih baik…

Amiiin…

Tulisan ini sebenarnya terinpirasi dari facebook status seorang kawan lama. Anak dan istri tercintanya baru saja terkena Chicken Pox, alias si Cacar Air. (Van… semoga Lya cepat sembuh yaaa).

Begitu membaca sang status, sambil ikut merasa prihatin, ingatan saya langsung terbang ke keadaan 10 bulan-an yang lalu, ketika suami dan kemudian berlanjut dengan saya sendiri terkena kunjungan virus nakal, si Varicella Zoster itu.

Teringat rasa tidak nyaman di seluruh badan saat itu, meskipun saya dan suami merasakan pengalaman yang berbeda saat mengalami penyakit ini.

Kalau sang bapak, agak parah, karena terlambat terdeteksi.
Maklum, kami berdua sama sekali belum pernah tahu tentang seluk beluk penyakit cacar air.

Gejala awalnya adalah muncul ruam merah yang basah, seperti jerawat yang pecah, tapi lembek. Semula saya kira itu jerawat yang pecah, tapi bentuknya lain, karena kesannya seperti bonyok. Mencurigakan!

Semula sang ruam cuma satu di pipi, karena bentuknya yang bonyok itu, kami pergi ke dokter keesokan harinya, dan setelah dokter memeriksa, baru diketahui ternyata sang ruam telah tumbuh cukup banyak di punggung.

Langsung deh dokter mendiagnosa sebagai cacar air. Itu belum seberapa, karena keesokannya bukan hanya muka dan punggung, tapi di seluruh tubuh si bapak bermunculan benjolan-benjolan berisi cairan bening yang kemudian meletus…. Jumlah ruam banyak sekali, sampai lebih dari 200 spot-an. Muka dan badannya sampai membengkak… serem banget, deh!.

Selain benjolan-benjolan mengerikan itu, badannya pun mengalami demam, tapi bukan pada hari pertama timbulnya ruam, melainkan di hari ke 3.
Panasnya sampai 40 der Celcius, dan berlangsung selama 4 malam. Selama 4 hari 4 malam itu juga, konon dia merasa sangat tidak nyaman… badan sakit semua, tulang-tulang rasanya remuk, dllsb.

Obat yang diberikan dokter : parasetamol (penurun panas), obat alergi (untuk mengurangi gatal di ruam-ruamnya), dan terakhir Zovirax (isinya asiklovir, ini obat antivirus, tapi ada kontroversi juga mengenai perlu tidak penggunaannya, dan secara teori, obat ini lebih efektif digunakan bila dimakan 24 jam setelah munculnya ruam pertama, sementara suami saya minumnya sudah hari ke 4).

Si bapak sembuh (dalam artian seluruh ruamnya sudah mengering, dan lepas dari kulit sehingga tidak berpotensi menularkan lagi) setelah 2 minggu.
Selama itu, tetap dianjurkan mandi pakai air hangat, dan ruamnya diberi calamine lotion untuk mengurangi gatal. Buat ruam yang terlanjur melepuh dan bernanah, diberi salep antibiotik.
Sampai 2 bulan setelah sembuh, di seluruh tubuh dan muka suami saya masih penuh dengan bintik-bintik hitam sisa cacar air….

Sementara saya, sebelum tertular tentunya sudah siap sedia (maklum, sudah tau ada kemungkinan akan terkena).
Saya sudah sempat browsing sana-sini, juga dengan cerewet bertanya-tanya pada dokter yang merawat si bapak.

Karenanya, begitu saya merasa tidak enak badan, saya langsung memeriksa kulit sekujur badan, pertama, saya menemukan spot bening dua buah di pusar.
Tanpa ditunda, pagi itu juga, saya langsung menemui dokter sebelum si spot pecah, dan diberi Zovirax, parasetamol, dan obat alergi juga.

Besoknya muncul sekitar 10 spot di muka (dihitung bo! secara, muka… gitu loh… asset… hehehehe)
Hmmm… sudah sempat misuh-misuh sama si bapak, kalo sampai nanti muka saya penuh spot kayak dia, saya bakal minta dana buat me- laser… hahahaha…. (padahal gak tau, dilaser itu diapain… kekekekek… biar gaya aja, saking takutnya).

Tapi alhamdulillah, sang spot yang di muka keesokan harinya menciut sendiri, dan hilang tanpa bekas. Dalam 4 hari, muka sayapun kembali mulus lus bin kinclong-clong… hehehe alhamdulillah.
Demam pun cuma 38.4 der Celcius, alias masih ringan dan cuma satu malam.
Badan juga nggak sakit-sakit amat.
Spot di tubuh cuma 2 yang di puser itu, terus satu lagi di paha. Itupun tidak sampai pecah, dan mengering dalam waktu kurang dari 1 minggu.

Saya sih menyimpulkan (kata dokter juga, sih… hehehe), ini efek Zovirax / nama generiknya : asiklovir (aciclovir) yang diminum tepat waktu (24 jam begitu spot pertama muncul).
Dan sang Zovirax tetap diminum sampai 2 Mingguan, untuk memastikan semua virusnya sudah mati dan nggak sembunyi di tubuh saya, untuk suatu saat muncul kembali dalam bentuk Herpes.
Karena menurut teorinya, kalau orang sudah sekali kena cacar air, dia nggak akan kena lagi, tapi akan ada kemungkinan terkena infeksi lanjutan berupa penyakit herpes zoster atau cacar ular, apabila suatu saat nanti kondisi fisik si mantan penderita cacar air ini lemah (karena terkadang si virus cacar air ini masih bersembunyi secara non aktif di dalam tubuh kita dan suatu saat bisa saja muncul kembali).

Dari hasil browsing sana-sini, saya juga dapati, bahwa tidak perlu takut, kena varicella zoster, karena seperti penyakit virus lainnya, sesungguhnya penyakit ini dapat sembuh dengan sendirinya, asal kondisi fisik kita dijaga dengan baik…
Begitu pun bila kondisi fisik kita fit, meski ada sang virus yang bertebaran di udara, maka kita tidak akan begitu saja terinfeksi.

Karena itu, begitu tahu si bapak terinfeksi, langkah pertama yang saya lakukan adalah mengisolasi beliau dari anak-anak, serta menjaga kondisi fisik anak-anak dan saya sendiri agar tetap fit (tapi ini, yang susah… kalo anak-anak sih, alhamdulillah bisa, tapi saya? berhubung harus merawat yang sedang sakit… yang sebentar-sebentar mengeluh minta diperhatikan…) mau tidak mau, kondisi fisik saya agak drop juga…

Satu lagi, anak-anak untungnya telah saya bekali dengan alat tempur berupa ‚Äúvaksinasi Cacar Air‚ÄĚ.
Alhamdulillah, so far, IT’S REALLY WORK!
Mereka berdua sehat wal afiat, dan tidak ikut tertular….

Jadiii… buat yang punya anak kecil dan belum kena…. jangan ragu buat memberi mereka imunisasi, yaaa…. terbukti kok manfaatnya…

Ada hal yang lucu, sementara sebagian orang ada yang paranoid habis pada penyakit ini (bahkan ada yang sudah pernah terkena Herpes Zoster alias mbahnya cacar air, tapi masih parno ketularan cacar air), ternyata ada sebagian orang tua (beberapa tetangga orang bule di sekitar sini) malah berpendapat, mendingan anaknya ditularkan penyakit ini ketika kecil, karena serangan pada anak konon tidak seberat pada orang dewasa. Makanya waktu kami berdua sedang sakit, beberapa teman malah minta izin menitipkan anaknya supaya dapat imunisasi gratis dari si virus di rumah kami… Hahaha… ada-ada saja!
Tentu saja usulnya kami tolak mentah-mentah…
Gila aja, menularkan penyakit pada anak-anak tak berdosa….
Saya pribadi lebih setuju, anak-anak itu diberi vaksinasi, dapiada mengalami penderitaan cacar air seperti kami…

—-

Catatan Ilmiah dari Situs Kesehatan

Kalau di atas, saya menuliskan pengalaman saya saat menjadi penderita cacar air, maka di bawah ini saya copy paste catatan ilmiah tentang cacar air ini.

Sebetulnya begitu kita meng-klik di google, dengan keywords cacar air, dalam sepersekian detik, akan muncul berbagai situs yang memberikan info soal penyakit ini, tapi untuk mempermudah, berhubung hampir semua isinya kurang lebih, ini saya copy paste-kan salah satu info dari Medicastore yaitu artikel ini yang menurut saya paling sederhana dan mudah dipahami bahasanya bagi orang awam seperti saya…

Apa yang itu Cacar Air???

Cacar Air

 

Cacar Air (Varisela, Chickenpox) adalah suatu infeksi virus menular yang menyebabkan ruam kulit berupa sekumpulan bintik-bintik kecil yang datar maupun menonjol, lepuhan berisi cairan serta keropeng, yang menimbulkan rasa gatal. 


Penyebabnya adalah virus varicella-zoster. 
Virus ini ditularkan melalui percikan ludah penderita atau melalui benda-benda yang terkontaminasi oleh cairan dari lepuhan kulit. 
Penderita bisa menularkan penyakitnya mulai dari timbulnya gejala sampai lepuhan yang terakhir telah mengering. Karena itu, untuk mencegah penularan, sebaiknya penderita di
isolasi (diasingkan). 

Jika seseorang pernah menderita cacar air, maka dia akan memiliki kekebalan dan tidak akan menderita cacar air lagi. Tetapi virusnya bisa tetap tertidur di dalam tubuh manusia, lalu kadang menjadi aktif kembali dan menyebabkan herpes zoster. 


Gejalanya mulai timbul dalam waktu 10-21 hari setelah terinfeksi. 
Pada anak-anak yang berusia diatas 10 tahun, gejala awalnya berupa sakit kepala, demam sedang dan rasa tidak enak badan. Gejala tersebut biasanya tidak ditemukan pada anak-anak yang lebih muda, gejala pada dewasa biasanya lebih berat. 

24-36 jam setelah timbulnya gejala awal, muncul bintik-bintik merah datar (makula). Kemudian bintik tersebut menonjol (papula), membentuk lepuhan berisi cairan (vesikel) yang terasa gatal, yang akhirnya akan mengering. Proses ini memakan waktu selama 6-8 jam. Selanjutnya akan terbentuk bintik-bintik dan lepuhan yang baru. 
Pada hari kelima, biasanya sudah tidak terbentuk lagi lepuhan yang baru, seluruh lepuhan akan mengering pada hari keenam dan menghilang dalam waktu kurang dari 20 hari. 

Papula di wajah, lengan dan tungkai relatif lebih sedikit; biasanya banyak ditemukan pada batang tubuh bagian atas (dada, punggung, bahu). Bintik-bintik sering ditemukan di kulit kepala. 
Papula di mulut cepat pecah dan membentuk luka terbuka (
ulkus), yang seringkali menyebabkan gangguan menelan. Ulkus juga bisa ditemukan di kelopak mata, saluran pernafasan bagian atas, rektum dan vagina. 
Papula pada pita suara dan saluran pernafasan atas kadang menyebabkan gangguan pernafasan. 

Bisa terjadi pembengkaan kelenjar getah bening di leher bagian samping. 

Cacar air jarang menyebabkan pembentukan jaringan parut, kalaupun ada, hanya berupa lekukan kecil di sekitar mata. 
Luka cacar air bisa terinfeksi akibat garukan dan biasanya disebabkan oleh
stafilokokus. 

KOMPLIKASI 

Anak-anak biasanya sembuh dari cacar air tanpa masalah. Tetapi pada orang dewasa maupun penderita gangguan sistem kekebalan, infeksi ini bisa berat atau bahkan berakibat fatal. 

Adapun komplikasi yang bisa ditemukan pada cacar air adalah: 
–¬†
Pneumonia karena virus 
РPeradangan jantung 
РPeradangan sendi 
РPeradangan hati 
– Infeksi bakteri (
erisipelas, pioderma, impetigo bulosa) 
–¬†
Ensefalitis (infeksi otak). 


Diagnosis ditegakkan berdasarkan ruam kulit yang khas (makula, papula, vesikel dan keropeng). 


Untuk mengurangi rasa gatal dan mencegah penggarukan, sebaiknya kulit dikompres dingin. Bisa juga dioleskan losyen kalamin, antihistamin atau losyen lainnya yang mengandung mentol atau fenol 

Untuk mengurangi resiko terjadinya infeksi bakteri, sebaiknya: 
Рkulit dicuci sesering mungkin dengan air dan sabun 
Рmenjaga kebersihan tangan 
Рkuku dipotong pendek 
Рpakaian tetap kering dan bersih. 

Kadang diberikan obat untuk mengurangi gatal (antihistamin). 
Jika terjadi infeksi bakteri, diberikan antibiotik. 
Jika kasusnya berat, bisa diberikan obat anti-virus 
asiklovir. 

Untuk menurunkan demam, sebaiknya gunakan asetaminofen, jangan Aspirin. 
Obat anti-virus boleh diberikan kepada anak yang berusia lebih dari 2 tahun.
adrenalinAsiklovir biasanya diberikan kepada remaja, karena pada remaja penyakit ini lebih berat. Asiklovir bisa mengurangi beratnya penyakit jika diberikan dalam wakatu 24 jam setelah munculnya ruam yang pertama. 
Obat anti-virus lainnya adalah vidarabin. 


Untuk mencegah cacar air diberikan suatu vaksin. 
Kepada orang yang belum pernah mendapatkan vaksinasi cacar air dan memiliki resiko tinggi mengalami komplikasi (misalnya penderita gangguan sistem kekebalan), bisa diberikan 
immunoglobulin zoster atau immunoglobulin varicella-zoster. 

Vaksin varisela biasanya diberikan kepada anak yang berusia 12-18 bulan. 

 

 

 

——

Hubungan Cacar air dengan Herpes Zoster

Secara tidak langsung, sambil membrowsing tentang cacar air, saya pun mendapat tambahan ilmu mengenai penyakit Herpes Zoster alias cacar ular yang nggak lain nggak bukan adalah Mbahnya si Chicken Pox.
Dari medicastore juga, di artikel ini, saya dapatkan info tentang Herpes Zoster ini.

Cacar Ular ???
Walaupun namanya cacar ular, penyakit ini tidak disebabkan oleh ular. Cacar ular adalah nama awam untuk penyakit Herpes Zoster. Penyakit ini merupakan bentuk reaktivasi penyakit cacar air (varisela) yang pernah diderita seseorang sebelumnya.

Perlu diketahui, bila seseorang terkena infeksi virus varisela-zoster untuk pertama kali, maka akan timbul penyakit cacar air.
Setelah sembuh, virus tersebut tidaklah musnah seluruhnya dari tubuh penderita, melainkan berdiam di dalam tubuh penderita, tepatnya di ganglion saraf tepi penderitanya.
Virus yang berdiam dalam tubuh penderita ini dapat sewaktu-waktu muncul kembali dan menyebabkan penyakit yang dinamai Herpes Zoster.

Walau di dalam tubuhnya terdapat virus ini, namun kebanyakan orang memang tidak mengalami penyakit Herpes Zoster. Hal ini disebabkan daya tahan tubuh yang baik yang dapat menekan virus ini berkembang. Sebaliknya, pada orang yang daya tahannya sedang menurun, tak jarang penyakit ini tiba-tiba muncul menyerang.

Gejala yang terjadi pada penyakit ini awalnya hampir sama dengan cacar air, yaitu terjadi demam dan badan terasa pegal-pegal. Selanjutnya sedikit berbeda dengan penyakit cacar air, walaupun virus penyebabnya sama. Pada Herpes Zoster, gelembung muncul dalam suatu kelompok yang menyerupai garis lebar dengan dasar kulit kemerahan, yang muncul dari bagian belakang tubuh dan menjalar ke arah depan pada salah satu sisi tubuh.
Mungkin karena gambaran kelainan yang seperti gambar ular ini, maka ada yang menemakannya cacar ular.
Sebenarnya gelembung ini bisa muncul di bagian tubuh mana saja, termasuk wajah, namun yang paling sering adalah dari punggung ke bagian dada.

Ada mitos yang mengatakan, bila deretan gelembung muncul dari kedua sisi tubuh, dan kedua ujungnya bertemu, maka akan fatal akibatnya. Mitos ini tidaklah tepat, namun ada unsur benarnya juga. Yang jelas, deretan gelembung memang umumnya muncul hanya di salah satu sisi saja.
Bila sampai muncul di kedua sisi, berarti infeksi yang terjadi sangat berat, dan daya tahan tubuh penderita dalam keadaan sangat lemah dan buruk. Tentunya kondisi fisik yang demikian ini memang memiliki risiko yang bisa berakibat fatal.

Walaupun jarang, kasus seperti ini dapat dijumpai pada penderita yang mendapat terapi imunosupresan (penekanan sistem kekebalan tubuh) dosis tinggi dalam jangka panjang atau pada penderita HIV / AIDS. Ini artikel lengkapnya (saya copy paste dari sini).

 

Herpes Zoster


Herpes Zoster (Shingles) adalah suatu infeksi yang menyebabkan erupsi kulit yang terasa sangat nyeri berupa lepuhan yang berisi cairan. 

Herpes zoster bisa terjadi pada usia berapapun tetapi paling sering terjadi pada usia diatas 50 tahun. 


Penyebab herpes zoster adalah virus varicella-zoster, virus yang juga menyebabkancacar air. 

Infeksi awal oleh virus varicella-zoster (yang bisa berupa cacar air) berakhir dengan masuknya virus ke dalam ganglia (badan saraf) pada saraf spinalis maupun sarafkranialis dan virus menetap disana dalam keadaan tidak aktif. 
Herpes zoster selalu terbatas pada penyebaran akar saraf yang terlibat di kulit (
dermatom). 

Virus herpes zoster bisa tidak pernah menimbulkan gejala lagi atau bisa kembali aktif beberapa tahun kemudian. 
Herpes zoster tejadi jika virus kembali aktif. Kadang pengaktivan kembali virus ini terjadi jika terdapat gangguan pada sistem kekebalan akibat suatu penyakit (misalnya karena 
AIDS atau penyakit Hodgkin) atau obat-obatan yang mempengaruhi sistem kekebalan. 
Yang sering terjadi adalah penyebab dari pengaktivan kembali virus ini tidak diketahui. 


3-4 hari sebelum timbulnya herpes zoster, penderita merasa tidak enak badan, menggigil, demam, mual, diare atau sulit berkemih. 
Penderita lainnya hanya merasakan nyeri, kesemutan atau gatal di kulit yang terkena. 

Muncul sekumpulan lepuhan kecil berisi cairan dikelilingi oleh daerah kemerahan. 
Lepuhan ini hanya terbatas pada daerah kulit yang dipersarafi oleh saraf yang terkena. 
Lepuhan paling sering muncul di batang tubuh dan biasanya hanya mengenai satu sisi (kanan saja atau kiri saja). 
Daerah yang terkena biasanya peka terhadap berbagai rangsangan (termasuk sentuhan yang sangat ringan) dan bisa terasa sangat nyeri. 

Lepuhan mulai mengering dan membentuk keropeng pada hari kelima setelah mereka muncul. 
Lepuhan mengandung virus herpes zoster, yang jika ditularkan bisa menyebabkan cacar air. 
Lepuhan yang lua atau menetap lebih dari 2 minggu biasanya menunjukkan bahwa sistem kekebalan penderita tidak berfungsi sebagaimana mestinya. 

Suatu serangan herpes zoster biasanya memberikan kekebalan yang cukup lama sebelum terjadi serangan berikutnya; kurang dari 4% penderita yang mengalami serangan kedua. 
Sebagian besar penderita mengalami penyembuhan tanpa meninggalkan gejala sisa. Tetapi bisa terbentuk jaringan parut yang luas meskipun tidak terjadi infeksi bakteri sekunder. 
Jika mengenai saraf wajah yang menuju ke mata bisa menimbulkan masalah yang cukup serius. 

Neuralgia pasca-herpetik 

Neuralgia pasca-herpetik adanya nyeri di daerh kulit yang dipersarafi oleh saraf yang terkena. 
Nyeri ini bisa menetap selama beberapa bulan atau beberapa tahun setelah terjadinya suatu episode herpes zoster. 
Nyeri bisa dirasakan terus menerus atau hilang-timbul dan bisa semakin memburuk pada malam hari atau jika terkena panas maupun dingin. 

Nyeri paling sering dirasakan pada penderita usia lanjut; 25-50% penderita yang berusia diatas 50% mengalami neuralgia pasca-herpetik. 
Tetapi hanya 10% dari seluruh penderita yang mengalami neuralgia pasca-herpetik. 

Pada sebagian besar kasus, nyeri akan menghilang dalam waktu 1-3 bulan; tetapi pada 10-20% kasus, nyeri menetap selama lebih dari 1 tahun dan jarang berlangsung sampai lebih dari 10 tahun. 

Pada sebagian besar kasus, nyeri bersifat ringan dan tidak memerlukan pengobatan khusus. 


Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejalanya yang mengikuti pola dermatom pada satu sisi tubuh. 


Obat anti-virus bisa diberikan untuk memperpendek lamanya erupsi kulit, terutama pada penderita yang mengalami gangguan sistem kekebalan. 

Sangat penting untuk menjaga kebersihan kulit agar tidak terjadi infeksi bakteri sekunder. 

Aspirin atau kodein bisa meringankan nyeri untuk sementara waktu dan bisa diberikan jika rasa nyeri menyebabkan penderita tidak dapat tidur atau melakukan aktivitas. 
Aspirin tidak boleh diberikan kepada anak-anak karena memiliki resiko terjadinyasindroma Reye. 

———–

Naaaah… dari info di atas, dapat disimpulkan,

1. Cacar air adalah penyakit yang datang hanya sekali seumur hidup, karena pada infeksi kedua, yang muncul bukanlah cacar air, melainkan Herpes Zoster (Cacar Ular).

2. Semua yang pernah terkena cacar air, harus terus menjaga kondisi kesehatannya, karena bila kondisi mereka menurun, sang virus Varicella Zoster yang tertidur di tubuhnya akan muncul dalam bentuk cacar ular alias Herpes Zoster.

3. Orang yang pernah menderita Herpes Zoster, berarti sadar maupun tidak, telah pernah mengalami cacar air di masa sebelumnya… jadi… gak usah takut lagi tertular penyakit ‘cucu’nya itu…. karena sesungguhnya, dalam tubuhnya sendiri, telah bercokol virus Varicella zoster dalam bentuk yang tidak aktif.
Yang penting selalu menjaga kondisi tubuh agar senantiasa fit, sehingga si Varicella tidak aktif dan mejeng kembali dalam bentuk Herpes Zoster berikutnya…

—–

Yah…. ini yang bisa saya share kali ini, kalau ada yang ingin mengkoreksi atau menambahkan, silahkan yaaa…. mari kita belajar dan berbagi ilmu bersama….

Sebenarnya kisah ini terlambat diposting, karena kejadiannya sudah berlangsung beberapa minggu yang lalu…

Ceritanya, sudah 2 hari saya dan si bapak sedang ‘tidak kompak’ (ehm, pake tanda kutip). Kalau mau jujur, sebenarnya ke’tidak kompak’an ini (menurut kami¬†sih…) merupakan hal yang wajar saja… Karena konon menurut buku¬†kan, si Bapak adalah alien yang berasal dari planet Mars, sementara saya adalah mahluk dari planet Venus, jadi tak jarang dalam pengembaraan bersama kami di planet bumi ini kerap terjadi perbedaan cara pandang, perbedaan cara berkata-kata, perbedaan cara bersikap…
Meski hampir satu dekade, dua mahluk beda planet ini hidup bersama, sekali dua kali ehm seratus duaratus kali… mesti deh ada ke’tidak kompak’-an tadi…
Begitulah, maka kejadian ‘tidak kompak’nya kami beberapa minggu lalu itu pun rasanya jadi suatu hal yang wajar, dalam perjalanan hidup kami, sampai tiba-tiba, setelah berlangsung selama 2 hari….
Ada sesuatu yang membuat saya tertegun dan malu.
Saat itu saya sedang tidur-tidur-an di kamar Qika, sekalian menidurkan si princess endut itu…
Tiba-tiba dia bertanya…
“Mum, do you love me?”
“Iya dong adek….”¬†jawab saya sambil mencium pipi montoknya dengan gemas.
Do you love Shafa and bibi?”¬†tanyanya lagi.
“Iya lah sayang…. “¬†jawab saya lagi sambil memeluknya.
“Mum, why you always love Me, Shafa and Bibi, but you don’t love Daddy?”
*waaaks!*
“Lho kok adek tanya gituuu???”
“Ya, because I saw you and Daddy sometimes don’t love each other… why Mum?”
*waaaakkksss… lagiii!!!*
Saya terbengong sesaat melirik mata beningnya yang menatap wajah saya minta penjelasan….
“Eh… ehmmm,”¬†saya terpaksa berpikir keras mencari jawaban yang tepat buat anak kecil berumur 4 tahun lebih ini…
“Mum, may be better you try, to understand Daddy first, and believe me, if you can understand Daddy, Daddy will understand you too, and you will understand each other…”¬†Si kecil yang selama ini saya anggap baby itu menatap saya dengan serius…
“After you understand each other, believe me, Mum, You and Daddy will love each other…”
“Hmmmm…mmmm…”¬†saya berusaha tersenyum, tapi sungguh, saat itu tiba-tiba saya seperti disergap perasaan maluuuuu… yang teramat sangat…
Halooo halooo ibu… yang bicara ini anakmu atau ibu mu, siiiih???
“Would you promise me, mum… “¬†tambahnya dengan wajah penuh harap…
“Janji apa, Dek…???”¬†duh kok kerongkongan saya seperti tercekat…
“Please, try to understand Daddy. Better you do it first, don’t wait for Daddy to do it for you. I’m sure you can, Mum… Look, you see, you can understand Me, Shafa and bibi, right? So, You should try to understand Daddy too…”¬†tangan kecilnya membelai tangan saya… bibir mungilnya menyungging seyum, dan matanya…. duh matanya… bersinar seperti orang yang baru menemukan ide yang sangat brilian!
“Ehm… iya dek…”¬†saya tidak tahu, apa warna muka saya saat itu… yang jelas, perasaan saya saat itu campur aduk, antara takjub, geli, malu…
“There’s a simple way, if you want to understand Daddy, Mum…”¬†tambahnya lagi.
“If Daddy say something to you, you just say¬†‘oke, Daddy’¬†or you can say,’baiklah, bapak’,¬†that’s simple… it will not hurt anybody, and Daddy will be happy, and he will love you…”
*gubraaaakkk*
“Oh… gitu ya sayang…”
“Ya, Mum, it’s very simple, isn’t it? would you like to promise me, Mum? Please…”
Duh… duh…. air mata saya mulai mengambang…
Merebak bersama rasa malu yang menghujam, ditambah rasa terharu, karena ternyata bayi kecil kesayangan saya ini, telah membuka mata dan hati saya malam itu…
Duh… apa yang sudah saya contohkan padanya selama ini? hingga sebegitunyakah, ke’tidak kompak’an kami sampai tertangkap di mata beningnya?
Hari itu, saya mendapat pelajaran besar, dari seorang anak kecil…
Ia sedehana, tapi mendalam…
Terimakasih, sayang…. hari ini ibu belajar darimu, anakku….
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.